Hmm.. gw cuma keinget cerita dosen PSSR gw. Katanya, senior gw pernah bikin semacam film/serial animasi tentang Cepot dan kawan-kawan. Waktu itu dia nawarin karyanya itu ke beberapa stasiun televisi, tapi ga ada respon. Terus dia juga nawarin ke Departemen Pariwisata (kalo ga salah), tapi tetep ga ada respon positif untuk karyanya itu. Nah, setelah itu ada pihak dari Malaysia yang mau beli karyanya itu. Emang sih waktu itu dosen gw ga nyeritain apa senior gw itu akhirnya ngejual karyanya ke Malaysia atau ngga.
Sekarang, fenomena yang terjadi adalah warga Indonesia, terutama anak-anak terlihat (sangat) mengapresiasi serial animasi dari luar negeri, dan salah satunya dari negeri tetangga. Meskipun ada kabar bahwa yang membuat animasi tersebut adalah orang Indonesia dan pengisi soundtracknya band asal Indonesia, tapi rasanya miris melihat orang Indonesia lebih "menghargai" karya dari luar.
Merujuk ke dua kejadian di atas, gw pun bertanya, kenapa sepertinya orang Indonesia sulit menghargai karya anak bangsa? Apa karena itu karya anak bangsa sehingga dianggap murahan?
1 comments:
maklumlah bang,.. sekarang lebih diutamakan yang mempunyai nilai jual tinggi dan menguntungkan.. yang berkualitas.. gilas aja.. ( gitu siech kayaknya.. heheh )
Post a Comment