Tadi sore, well, beberapa jam yang lalu gw liat TV (tumben) dan banyak berita tentang pengumuman UN.
Well, di situ, diberitakan bahwa angka kelulusan UN tahun ini turun dari tahun lalu. Terus ada juga salah satu kota yang tingkat kelulusannya 0%. Ada juga yang udah diterima di PTN tapi ga lulus UN.
Hmmm... kalo diliat dari angka kelulusan yang turun, mungkin dipahami karena UN tahun 2010 dimajukan menjadi Maret setelah terjadi simpang siur berita hingga sekitar bulan Desember atau Januari *yang gw rasa sih, Desember atau Januari baru ada kepastian jadwal UN.. ==a*. Nah, dengan kepastian yang bisa dikatakan mendadak itu, otomatis masa persiapan pun jadi berkurang sekitar satu bulan. Ya, mungkin orang yang di atas bakal bilang, kalo emang siap diujikan kapan aja pasti bisa. Well, argumen gw, materi itu banyak, dan siswa pun bukan robot. Bahkan robot pun kalo dipake tanpa istirahat bisa rusak!! Nah ini manusia, pasti ada batas jenuh saat persiapan yang dipadatkan demi mencapai kesiapan saat UN. FYI, waktu menjelang UN, gw pergi dari rumah sekitar jam setengah 7, sekolah nyampe jam setengah 2, terus bimbel di sekolah dari jam 2 nyampe jam 5, terus bimbel di luar dari jam 5 nyampe jam 8. Itu kan GILA!! Terus juga ada faktor lain yang bikin siswa ga lulus, misalnya di Karawang, pas pelaksanaan UN bencana banjir terbesar dalam 15 tahun tengah melanda. Ya baik secara langsung maupun tidak langsung itu bakal ngeganggu konsentrasi peserta UN.
Soal ke-2, ada satu daerah yang tingkat kelulusannya 0%. Dalam kata lain presentase tidak lulusnya mutlak 100%. Nah, mungkin ini lah masalah yang ga/belum pernah disadari oleh pemerintah. Apa? Yup, tentang kualitas pendidikan di Indonesia. Kita, atau setidaknya gw sebagai pelajar pasti tau persis gimana bedanya kualitas pendidikan di kota sama daerah. Jangankan mau ngebandingin antar provinsi, antar kecamatan aja, yang masih dalam satu wilayah kabupaten/kota pasti kualitasnya udah beda. Baik dari infrastruktur, fasilitas dan tenaga pengajar. Jadi, apa mungkin sekolah yang sudah berlabel RSBI dengan segala kelengkapan dan kemewahan infrastrukturnya pantas untuk disamakan standar kelulusannya dengan sekolah yang ada di daerah yang bisa dikatakan infrastrukturnya *maaf* tidak memadai?
Yang ke-3, diterima di PTN tapi tidak lulus UN. Well, siapa yang salah ya? Pihak PTN atau pemerintah? Ah, ga mau banyak komentar deh. Tapi, apa tega ya pemerintah merenggut mimpi para penerus bangsa ini?
Pesan untuk pemerintah negeri ini, apa Anda semua tega melihat para penerus bangsa sampai harus bunuh diri karena terpukul karena kebijakan Anda yang menjadikan UN sebagai penentu kelulusan?
0 comments:
Post a Comment