Tempat Hang Out Asik Selain Mall?

>> Friday, January 8, 2010

Kayanya buat anak muda Indonesia sekarang (menurut gw ya..) kayanya ada pemikiran kalo tempat hang out yang asik plus gaul itu sama dengan MALL. Ya baik itu yang di kota besar maupun kota kecil. Hal ini mungkin dikarenakan oleh tidak adanya tempat lain yang bisa digunakan oleh anak muda untuk dijadikan tempat bersosialisasi dengan orang lain dalam jumlah besar.

Ya gw juga mengakui bahwa mall itu adalah tempat hang out paling komplit. Mau belanja, bisa. Mau maen beraneka permainan, bisa. Mau nonton, bisa (untuk mall tertentu). Mau makan, bisa. Apalagi sekarang di mall itu sudah dilengkapi dengan fasilitas Wi-Fi di mana para pengunjungnya bisa dengan mudah mengakses internet dari laptop/netbook, HP atau Blackberry mereka. Dengan begitu sudah tentu mall akan menjadi pilihan untuk hang out.

Tapi, belakangan, rasanya gw rada bosen dengan tempat yang namanya mall. Kenapa? Ya, gw bosen aja dengan suasana mall yang menurut gw "ga ada perubahan". Ada sesuatu yang gw sendiri susah buat bilang.. ==a

Gw sendiri mikir, di Indonesia ko rasanya susah nemu tempat hang out yang basisnya seperti taman kota. Taman yang cukup luas jadi kalo misal ke sana itu bisa nge-refresh pikiran yang penat dengan berbagai hal seharian. Atau sebenernya tempat pertandingan olahraga itu bisa dijadiin tempat hang out yang asik buat anak muda. Sistemnya dengan membuat kompetisi atau liga antar sekolah minimal dalam lingkup satu kota. Pertandingan bisa dilaksanakan pada malam hari seperti pada hari Jum'at malam atau Sabtu malam. Jadi para pelajar bisa hang out bareng temen-temennya buat ngedukung tim sekolahnya. Sesuatu yang bener-bener seru sewaktu setahun gw di luar (ciiieee... nyobong... xp).

Ah, ga ada ide lagi buat ini nulis ini postingan... ==a

*Any feedback, comment and question are welcome... :)

Read more...

Sebuah Ide untuk Masa Depan

>> Tuesday, January 5, 2010

Hari ini (5/1), waktu selesai pelajaran English, gw sama temen sebangku gw, Dicky, nemu sebuah topik pembicaraan yang seru. Berawal dari ide gw tentang arena bermain (baca posting untitled), tiba-tiba entah dari mana muncul sebuah ide lagi. Dan kamipun merekrut Derra buat ide ini.

Idenya adalah: jreng..jreng... Bikin game online! Ide awalnya dari permainan tradisional Indonesia yang udah mulai dilupakan oleh anak-anak. Jadi kami punya ide buat bikin permainan itu dalam bentuk video game online. Dan Derra memberikan ide basis gamenya itu mini game (kaya GetAmped).

Jadi gini idenya, game ini akan terdiri dari beberapa mini game yang memerlukan kelompok. Sehingga sejauh ini baru ditemukan 2 permainan yang cocok yaitu bentengan (bon bonan) dan galah asin. Permainannya sama dengan aslinya, pemain harus bekerja sama dengan pemain lain yang ada di kelompoknya untuk menang.

Nah, tujuan dari penggarapan game ini adalah karena selama ini anak-anak Indonesia itu lebih menyukai video game daripada permainan tradisional. Mungkin karena globalisasi. Sehingga denga diangkat dalam bentuk game online, diharapkan anak-anak pun akan tertarik untuk memainkan permainan yang mereka mainkan di dunia maya di dunia nyata. Sehingga permainan-permainan seperti ini akan tetap lestari.

Sekian idenya. Mohon doanya supaya bisa terlaksana.. :)

Read more...

Nilai Raport buat Gw = ??

Well, just to the point. Sebenernya apa sih arti nilai raport? Hmmm... Nilai gede artinya tuh murid pinter? Nilai kecil artinya tuh murid bodoh? Benarkah? Hmmm... relatif!

Sebelumnya, gw mohon maaf kalo ada pihak-pihak yang tersinggung sama tulisan gw ini. Kalo ada yang ga sependapat diskusi gw terima dengan senang hati.. :)

Entah kenapa gw ngerasa bahwa yang namanya nilai di sistem pendidikan Indonesia kayanya jadi seperti suatu tujuan. Di mana nilai itu jadi orientasi siswa. Bukan kemampuan. Ya, gw aga ter-amerikanisasi buat hal ini. Maksudnya, di sana emang orientasi itu nilai, tetapi memang nilai yang diberikan itu sebanding dengan kemampuan siswa.

Nah di sini, saat buka raport kemaren, jujur gw malu. Bukan karena nilai gw jelek, tapi justru karena nilai gw yang bagus utamanya untuk MIPA. Gw ga munafik juga kalo gw bersyukur dikasih nilai segitu. Masalahnya, gw malu sama diri sendiri karena gw ngerasa kurang pantes dapet nilai segitu. Karena ya, kemampuan gw ga layak buat nilai segitu. Mungkin banyak siswa yang terbuai karena dikasih nilai bagus. Tapi apa mereka pernah berpikir apa nilai itu sesua dengan kemampuan? Karena Indonesia itu punya sistem pendidikan yang ekstrim, yaitu sekitar 14 mata pelajaran per minggunya. Jadi, gw rasa hampir ga mungkin siswa bisa bagus di 14 pelajaran tersebut. Ya mungkin rata-rata siswa bisa menguasai sampai sekitar 7 pelajaran, sisanya kurang. Sehingga segala carapun dilakukan supaya nilai mereka ga terjun bebas di raport.

Hmmm... terus buat yang masih berpikir bahwa nilai raport=pinter=bakal sukses, jangan yakin dulu saudara... Karena pada fakta yang gw liat, banyak tuh nilai bagus di raport tapi kemampuan nol (no offense). Dan banyak fakta yang nunjukin bahwa yang secara akademik bagus, tapi berakhir menjadi seorang karyawan. Dan ga sedikit yang secara akademis kurang bagus malah bisa sukses. Tanya kenapa?

Jadi, kesimpulan gw sih, (misal) nilai MIPA gw sekarang ancur pun itu bukan akhir dunia gw. Dan (misal) nilai raport gw bagus juga bukan jaminan kesuksesan. Intinya, kesuksesan buat gw ga bisa diukur dari nilai-nilai raport. Akan tetapi bagaimana pengaplikasian hasil belajar selama ini. Itu baru siswa yang cerdas yang sesungguhnya. Kan kalo ilmu ga diaplikasiin di dunia nyata sama aja boong kan?

Read more...

Buat Anak SMA.. :p

>> Monday, January 4, 2010

Well, gw pengen berbagi saran aja. Utamanya buat yang masih pelajar di bawah kelas XII (3) SMA (mungkin bisa juga diaplikasikan oleh orang tua yang punya anak SMA).

Gw yang kini masih (terjebak, karena suatu kecelakaan yang menyenangkan.. :p) duduk di kelas XII alias 3 SMA, kadang aga miris ngeliat temen seangkatan gw yang belum nentuin ke mana mereka akan lanjut sekolah. Karena menurut gw, bulan Januari ini harusnya anak kelas XII SMA udah punya tujuan mau ke mana. Bukan malah bingung. Kalo bingungnya sambil coba-coba daftar sana-sini sih masih rada mending. Tapi kalo pasif? Hmmm...

Nah, karena itu gw ada sedikit saran aja (semoga berkenan):

  1. TENTUKAN PILIHAN SEJAK PERTENGAHAN KELAS XI (2) SMA. Kenapa? Karena saat duduk di kelas XI, murid biasanya cenderung bebas dan tidak ada beban, kecuali tanggung jawab di dalam organisasi (OSIS, ekskul dll). Nah, di masa ini daripada hanya sibuk dengan organisasi, kenapa ga meluangkan waktu sedikit untuk misal tes bakat/psikotes dan mulai mikir universitas? Sehingga sewaktu naik ke kelas XII, udah ga bingung lagi.
  2. JANGAN ASAL DAFTAR. Setelah (ataupun masih belum yakin) mendapatkan jurusan yang dituju, saran gw jangan maen daftar PMDK PTN. Karena, kalau PMDK PTN itu "wajib" diambil kalo lulus. Kalopun ga diambil, mungkin bisa jadi musuh sekolah dan kan kasian adik kelasnya, kesempatan masuk universitas tersebut (mungkin) akan berkurang.=.=
  3. SHARING DENGAN ORANG TUA. Ya ini sih wajib banget. Karena gimana pun kan orang tua yang (masih) membiayai kita. Kalo udah bisa membiayai sendiri sih syukur (^_^). Tapi, untuk orang tua juga jangan memaksakan kehendaknya. Maksudnya, nyuruh anaknya masuk FK, padahal anaknya ga minat ke FK. Karena hal itu bakal bikin anak tertekan dan kurang serius pas kuliah. Jadi lebih baik dukung minat si anak, walopun mungkin jurusan yang diminati aga aneh.

Sekian beberapa saran dari gw, semoga bermanfaat.. :)

Read more...

Untitled

>> Sunday, January 3, 2010

Postingan ini adalah suatu ide yang pop-up di otak gw sewaktu lagi ngobrol sama Kak Cia. Jadi waktu itu (30/12), sewaktu gw nunggu jemputan, gw sama Kak Cia ke Starbucks dan terlibat dalam suatu obrolan mungkin diskusi. Dari suatu pertanyaan Kak Cia ke gw, "Ndi, kalo di Karawang objek wisatanya yang bagus apa?". Hmmm... sulit dijawab. Well sebenernya Karawang punya Tugu Proklamasi di Rengasdengklok, tempat Bung Karno diculik sebelum kemerdekaan. Terus punya beberapa air terjun di Gunung Sanggabuana, pantai, Bendungan Walahar dan candi. Tapi (mungkin) kayanya perlu perbaikan jalan akses menuju objek wisata tersebut dan pengelolaan yang lebih profesional dari pemerintah (termasuk promosinya).

Well, ide yang pop-up di otak gw tuh bukan tentang objek wisata tadi. Tapi tiba-tiba gw punya ide, kenapa di Karawang ga bikin semacam arena bermain berbasis sawah. Mungkin buat perbandingannya tuh kaya Mekarsari. Jadi, kenapa engga Karawang tuh "mengalih fungsikan" sawahnya (mungkin lebih cocok yang di daerah kota), buat dijadiin arena bermain? Secara, Karawang kan dikenal sebagai Kota Padi.

Nah, kalo udah jadi, wahana bermainnya kaya apa aja? Yang dalam pikiran gw sih, wahana bermainnya itu simpel aja, misal, dengan memberikan kesempatan para pengunjung (terutama anak-anak) untuk ikut menanam padi atau memanen padi (bergantung waktunya). Nah, dengan begitu pengunjung khususnya anak-anak bisa mendapat pengalaman baru dengan turun ke sawah untuk bercocok tanam atau memanen. Bisa juga pengunjung merasakan pengalaman mandiin kerbau. Tapi juga ga semuanya sawah. Gw pikir bakal lebih menarik kalo ada cukup space untuk permainan-permainan tradisional, contohnya: galah asin, gatrik, bentengan (bon-bonan) dan permainan tradisional lain. Jadi, tempat ini diharapkan bisa jadi arena bermain yang seru untuk anak-anak dan untuk para orang tua bisa menjadi tempat untuk melepas penat dari hiruk-pikuk perkotaan sambil mengenang masa kecilnya dengan permainan-permainan tradisional. Dengan begitu, permainan tradisional diharapkan bisa tetap eksis ditengah maraknya video game.

Well, sekian sedikit ide dari gw buat kota gw tercinta Karawang.. :)

*Hmmm... kalo gw ikutan MoKa, dengan ide pengembangan potensi wisata kaya gini kayanya bisa menang *cuih cuih... PD bener dah*.. xp

Read more...

Nilai Raport

>> Sunday, December 27, 2009

Akhirnya semester pertama sekembalinya dari "liburan panjang" selesai tertanggal 26 Desember.

Well, sebenernya sekembalinya dari sana, ada hal-hal yang bergeser dalam ideal gw. Apa itu? Untuk hal ini gw khusus bahas soal nilai raport (mohon maaf jika aa pihak-pihak yang tersinggung). Secara pribadi gw jujur, gw udah ga terlalu peduli dengan nilai raport gw. Mungkin rada radikal juga, tapi menurut gw, nilai raport itu kan bukan cerminan kesuksesan seseorang dalam hal ini siswa. Lagipula, kalau gw belajar di sekolah dengan orientasi cuma buat nilai raport doang sih gampang cuy! Tinggal "berbaik hati" aja sama guru dan/atau nyontek sana-sini pas ulangan atau ujian. Gw juga ga munafik kalau pas ulum kemaren gw juga nyontek pas pelajaran MIPA, dengan ganti gw ngasi jawaban buat 2-3 pelajaran. =.=

Gw juga masih heran dalam beberapa hari ini banyak yang ngeluh nilai raport turun atau ada yang berbangga hati karena nilai raportnya besar. Nah, masalahnya sekarang, apa nilai itu murni hasil sendiri? Gw sendiri jujur pas buka raport tuh kaget, bukan karena nilainya jelek, tapi justru nilai gw ya relatif bagus utamanya di pelajaran MIPA. Padahal gw juga ngerasa itu tuh ga pantes buat gw (tapi ya udah dikasih masa nolak.. xp). Masa nilai fisika gw 80? Padahal selama 1 semester gw aja ga ngerti guru gw ngajar apa. Balik ke masalah, apa ini jadi gambaran orang (atau mungkin hanya pelajar) Indonesia di zaman sekarang ini? Buat dapetin apa yang diinginkan harus nge-halal-in segala cara. Kalau masih menggunakan segala cara (yang positif ya!! :p) sih, masih mending. Terus apakah nilai-nilai di raport itu masih dianggap kesuksesan siswa?

Nilai, ya nilai pasti dibutuhin oleh siswa buat lulus. Tapi ironisnya, kok sepertinya siswa sekarang diperbudak oleh nilai? Padahal kalau lihat orang-orang sukses, rata-rata secara akademis mereka ga begitu menonjol. Kita tahu seorang Bill Gates, dia ga pernah lulus kuliah. Tapi dia bisa sukses. Nah, orang-orang yang menonjol di bidang akademis itu dia jadiin anak buahnya. Jadi, mungkin untuk pelajar lebih baik nilai bagus dengan usaha sendiri daripada nilai jelek hasil nyontek (yaiyalah... dudul.. xp). Intinya percaya pada diri sendiri lebih penting. Daripada nyontek yang artinya menipu diri sendiri, kecuali ketika UN. Karena sewaktu UN itulah waktu kita membangun rasa kekeluargaan dalam berbangsa dan bernegara (hahaha.. kaco!!). :p

So then, it's back to yourself. Mau jadi diri sendiri atau pengikut?

Read more...

Silakan Jawab dan Berbagi Pikiran

>> Friday, October 2, 2009

Ini cuma beberapa buah pertanyaan yang mungkin sepele, tapi saya sendiri masih bingung dengan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya ini. Kalo ada yang bersedia buat tukar pikiran silakan.

*Di sini saya ga akan tulis jawaban saya. Hanya bahan renungan bagi Anda yang berkenan membaca dan berbagi pikiran.


1. Apa sih rasa nasionalisme itu?





2. Contoh nyata dari sikap nasionalis itu seperti apa?





3. Bagaimana cara menunjukan rasa nasionalisme?





4. Apakah Anda merasa diri Anda seorang yang nasionalis?





5. Kebudayaan itu apa sih?






6. Sejauh apa Anda mencintai kebudayaan Anda (Indonesia)?






7. Apa yang Anda akan lakukan jika ada negara lain yang meng-klaim budaya Anda (Indonesia)?






8. Apakah tindakan Anda (jawaban untuk nomor 7) bukti bahwa Anda adalah seorang yang nasionalis?







9. Anda yakin Anda cinta budaya Anda (Indonesia) dan tindakan Anda (jawaban untuk nomor 7)?






Hmmm... Jadi, sekarang....





10. Mana yang Anda lebih sukai: film Hollywood di bioskop atau pertunjukan wayang?






11. Mana yang Anda lebih sukai: tari modern atau tari tradisional?






12. Lebih bangga mana: bisa berbicara bahasa asing atau bisa berbicara bahasa daerah?







13. Mana yang Anda lebih sukai: kemeja impor bermerk luar negeri atau batik?








Jadi? *silakan jawab dalam diri Anda sendiri*




Hmmm... Saya juga masih bingung apakah saya sudah menjadi orang yang sudah benar-benar mencitai bangsa dan negara saya, dan lebih jauh kebudayaan saya. Semoga saya pribadi bisa menjawab pertanyaan saya dan bisa menjadi lebih baik. *Mugi-mugi abdi tiasa ngajawab panarosan abdi jeung tiasa jadi leuwih sae*.

Read more...

(Sekitar) Sebulan Menuju Sumpah Pemuda

>> Tuesday, September 29, 2009

Wah, sebulanan lagi kita bakal memperingati Hari Sumpah Pemuda. Well, ini peringatan sumpah pemuda pertama gw setelah "pencerahan" setahun lalu.


Pertama, mungkin gw pengen sedikit heran tentang perilaku para (baca: mayoritas) pemuda di Indonesia (yang sering gw lihat). Gw heran sama kelakuan mayoritas pemuda jaman sekarang. No offense, tapi menurut gw tuh pemuda sekarang tuh generasi NATO alias No Action Talk Only atau ngomong doang. Gw tau gw bukan orang yang sempurna (dan gw sadar, yang baca ini mungkin mikir gw juga NATO). Nah, yang gw lihat sekarang adalah kenyataan bahwa para pemuda cuma suka ngomong. Contoh, saat kebudayaan kita (contoh: batik) diklaim oleh Malaysia, orang-orang langsung ngeluarin suara keras terhadap Malaysia dengan caci maki sepaket dengan sumpah serapahnya, sedangkan sehari-hari (hampir) ga pernah pake batik. Apa yang kaya gitu itu sikap nasionalis? Mungkin. Tapi kan ironis jika di kehidupan sehari-hari mereka ga pernah pake batik tapi berani mencaci maki Malaysia.


Nah, dalam pemikiran gw, kita sebagai pemuda bisa menumbuhkan rasa nasionalisme dan menjaga kebudayaan kita dengan cara (setidaknya) mengapresiasi kebudayaan kita sendiri. Kenapa? Karena sekarang pemuda Indonesia terkesan malu kalau pake batik atau nari tarian daerah atau bicara bahasa daerah. Alesannya, kuno. Ga gaul. Ketinggalan jaman. Ya kan?


Jadi, buat peringatan sumpah pemuda taun ini, kenapa kita para pemuda ga lebih fokus untuk melestarikan budaya Indonesia. Kan kalo bukan kita yang jaga, siapa lagi? Juga, dengan kita melestarikan budaya Indonesia, niscaya budaya Indonesia ga akan "dicuri" lagi sama pihak asing. Walaupun jika gw liat ke postingan sebelumnya, rasanya hampir ga mungkin ada kebudayaan yang asli. Yang artinya ada kemungkinan budaya kita mirip/sama dengan kebudayaan negara lain.


Sekian...

Hidup Indonesia!


*keterangan: kalo ada yang ga setuju atau ga sepaham, ayo kita diskusi supaya kita bisa saling mengerti.

Read more...

Budaya, Anak Muda dan Konflik dengan Malaysia

>> Thursday, September 24, 2009

Tentang budaya Herkovits berpendapat bahwa kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic (sumber: id.wikipedia.org). Nah, dengan begitu sebenernya ada ga sih kebudayaan yang "asli"? Menurut pandangan gw pribadi ga ada. Karena seperti pendapat Herkovits, budaya itu sesuatu yang turun menurun dari generasi ke generasi. Jadi dengan analogi jika ada suatu suku bangsa bermigrasi suatu tempat yang baru, berarti mereka membawa budaya mereka itu ke tempat yang baru. Dan itu akan diturunkan ke generasi berikutnya. Contoh, jika ada sekelompok orang Indonesia (misal dari suku Sunda) bermigrasi ke suatu tempat baru, maka mereka akan membawa kebudayaan dan adat Sunda di daerah baru tersebut. Dan jika kita lihat kebudayaan-kebudayaan dan adat di Indonesia, sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu-Buddha dan Islam yang dibawa oleh para pedagang asing yang menetap di Indonesia pada masa lampau. Jadi menurut gw, sangat mungkin budaya dari dua negara mempunyai kemiripin atau mungkin sama. Karena adanya asimilasi budaya dan migrasi tadi.



Nah, sekarang apa hubungannya dengan anak muda dan Malaysia? Well, kita tau akhir-akhir ini negara tetangga kita ini "mencuri" atau menklaim budaya Indonesia. Yang terbaru adalah soal tari pendet. Tapi apakah mereka yang salah sepenuhnya? Hmmm... kata satu maskot di salah satu program berita kriminal sih itu terjadi karena ada kesempatan. Yap, yap. Karena ada KESEMPATAN. Di sinilah hubungannya "pencurian" itu berhubungan dengan anak muda. Sekarang coba kita renungkan, anak muda jaman sekarang lebih milih latihan tari tradisional atau modern dance? Lebih suka ke bioskop atau nonton wayang? Lebih bangga pake kemeja merk luar negeri atau batik?



Bukan maksud menyalahkan anak muda (karena gw juga masih muda dan ga sempurna), tapi buat masukan untuk negeri ini, terutama para pemuda untuk lebih mencintai apa yang kita miliki. Bukan setelah "dicuri" baru kita marah-marah dan mencaci maki negara tersebut. Dan seperti pendapat gw tadi, sangat mungkin kebudayaan dari dua negara punya kemiripan atau mungkin sama. Dengan logika jika ada orang Indonesia telah lama menetap di Malaysia dengan membawa budaya Indonesia dan dilakukan di sana apakah itu "pencurian"? Yang kita butuhkan sekarang adalah pengertian antar negara. Ingat, api jangan dilawan dengan api. Dan untuk para pemuda, cintai budaya kita, budaya Indonesia.



*keterangan: ini hanya pendapat dan masukan gw sebagai pemuda. Kalau ada yang kurang sepaham kita diskusi aja. :)

Read more...

Happy Ied Mubarak!

>> Saturday, September 19, 2009

Di hari yang fitri ini,
marilah kita saling memaafkan
semoga kita semua mendapatkan hidayahNya

Taqoballahu mina wa minkum
Minal aidin wal fa idzin
Mohon maaf lahir batin

---- HAPPY IED MUBARAK 1430 H ----

Regards,

a2_1803

Read more...

Wise Quote

"People rarely succeed unless they have fun in what they are doing." - Andrew Carnigie

  © Blogger templates Inspiration by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP