Nilai Raport

>> Sunday, December 27, 2009

Akhirnya semester pertama sekembalinya dari "liburan panjang" selesai tertanggal 26 Desember.

Well, sebenernya sekembalinya dari sana, ada hal-hal yang bergeser dalam ideal gw. Apa itu? Untuk hal ini gw khusus bahas soal nilai raport (mohon maaf jika aa pihak-pihak yang tersinggung). Secara pribadi gw jujur, gw udah ga terlalu peduli dengan nilai raport gw. Mungkin rada radikal juga, tapi menurut gw, nilai raport itu kan bukan cerminan kesuksesan seseorang dalam hal ini siswa. Lagipula, kalau gw belajar di sekolah dengan orientasi cuma buat nilai raport doang sih gampang cuy! Tinggal "berbaik hati" aja sama guru dan/atau nyontek sana-sini pas ulangan atau ujian. Gw juga ga munafik kalau pas ulum kemaren gw juga nyontek pas pelajaran MIPA, dengan ganti gw ngasi jawaban buat 2-3 pelajaran. =.=

Gw juga masih heran dalam beberapa hari ini banyak yang ngeluh nilai raport turun atau ada yang berbangga hati karena nilai raportnya besar. Nah, masalahnya sekarang, apa nilai itu murni hasil sendiri? Gw sendiri jujur pas buka raport tuh kaget, bukan karena nilainya jelek, tapi justru nilai gw ya relatif bagus utamanya di pelajaran MIPA. Padahal gw juga ngerasa itu tuh ga pantes buat gw (tapi ya udah dikasih masa nolak.. xp). Masa nilai fisika gw 80? Padahal selama 1 semester gw aja ga ngerti guru gw ngajar apa. Balik ke masalah, apa ini jadi gambaran orang (atau mungkin hanya pelajar) Indonesia di zaman sekarang ini? Buat dapetin apa yang diinginkan harus nge-halal-in segala cara. Kalau masih menggunakan segala cara (yang positif ya!! :p) sih, masih mending. Terus apakah nilai-nilai di raport itu masih dianggap kesuksesan siswa?

Nilai, ya nilai pasti dibutuhin oleh siswa buat lulus. Tapi ironisnya, kok sepertinya siswa sekarang diperbudak oleh nilai? Padahal kalau lihat orang-orang sukses, rata-rata secara akademis mereka ga begitu menonjol. Kita tahu seorang Bill Gates, dia ga pernah lulus kuliah. Tapi dia bisa sukses. Nah, orang-orang yang menonjol di bidang akademis itu dia jadiin anak buahnya. Jadi, mungkin untuk pelajar lebih baik nilai bagus dengan usaha sendiri daripada nilai jelek hasil nyontek (yaiyalah... dudul.. xp). Intinya percaya pada diri sendiri lebih penting. Daripada nyontek yang artinya menipu diri sendiri, kecuali ketika UN. Karena sewaktu UN itulah waktu kita membangun rasa kekeluargaan dalam berbangsa dan bernegara (hahaha.. kaco!!). :p

So then, it's back to yourself. Mau jadi diri sendiri atau pengikut?

Read more...

Silakan Jawab dan Berbagi Pikiran

>> Friday, October 2, 2009

Ini cuma beberapa buah pertanyaan yang mungkin sepele, tapi saya sendiri masih bingung dengan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya ini. Kalo ada yang bersedia buat tukar pikiran silakan.

*Di sini saya ga akan tulis jawaban saya. Hanya bahan renungan bagi Anda yang berkenan membaca dan berbagi pikiran.


1. Apa sih rasa nasionalisme itu?





2. Contoh nyata dari sikap nasionalis itu seperti apa?





3. Bagaimana cara menunjukan rasa nasionalisme?





4. Apakah Anda merasa diri Anda seorang yang nasionalis?





5. Kebudayaan itu apa sih?






6. Sejauh apa Anda mencintai kebudayaan Anda (Indonesia)?






7. Apa yang Anda akan lakukan jika ada negara lain yang meng-klaim budaya Anda (Indonesia)?






8. Apakah tindakan Anda (jawaban untuk nomor 7) bukti bahwa Anda adalah seorang yang nasionalis?







9. Anda yakin Anda cinta budaya Anda (Indonesia) dan tindakan Anda (jawaban untuk nomor 7)?






Hmmm... Jadi, sekarang....





10. Mana yang Anda lebih sukai: film Hollywood di bioskop atau pertunjukan wayang?






11. Mana yang Anda lebih sukai: tari modern atau tari tradisional?






12. Lebih bangga mana: bisa berbicara bahasa asing atau bisa berbicara bahasa daerah?







13. Mana yang Anda lebih sukai: kemeja impor bermerk luar negeri atau batik?








Jadi? *silakan jawab dalam diri Anda sendiri*




Hmmm... Saya juga masih bingung apakah saya sudah menjadi orang yang sudah benar-benar mencitai bangsa dan negara saya, dan lebih jauh kebudayaan saya. Semoga saya pribadi bisa menjawab pertanyaan saya dan bisa menjadi lebih baik. *Mugi-mugi abdi tiasa ngajawab panarosan abdi jeung tiasa jadi leuwih sae*.

Read more...

(Sekitar) Sebulan Menuju Sumpah Pemuda

>> Tuesday, September 29, 2009

Wah, sebulanan lagi kita bakal memperingati Hari Sumpah Pemuda. Well, ini peringatan sumpah pemuda pertama gw setelah "pencerahan" setahun lalu.


Pertama, mungkin gw pengen sedikit heran tentang perilaku para (baca: mayoritas) pemuda di Indonesia (yang sering gw lihat). Gw heran sama kelakuan mayoritas pemuda jaman sekarang. No offense, tapi menurut gw tuh pemuda sekarang tuh generasi NATO alias No Action Talk Only atau ngomong doang. Gw tau gw bukan orang yang sempurna (dan gw sadar, yang baca ini mungkin mikir gw juga NATO). Nah, yang gw lihat sekarang adalah kenyataan bahwa para pemuda cuma suka ngomong. Contoh, saat kebudayaan kita (contoh: batik) diklaim oleh Malaysia, orang-orang langsung ngeluarin suara keras terhadap Malaysia dengan caci maki sepaket dengan sumpah serapahnya, sedangkan sehari-hari (hampir) ga pernah pake batik. Apa yang kaya gitu itu sikap nasionalis? Mungkin. Tapi kan ironis jika di kehidupan sehari-hari mereka ga pernah pake batik tapi berani mencaci maki Malaysia.


Nah, dalam pemikiran gw, kita sebagai pemuda bisa menumbuhkan rasa nasionalisme dan menjaga kebudayaan kita dengan cara (setidaknya) mengapresiasi kebudayaan kita sendiri. Kenapa? Karena sekarang pemuda Indonesia terkesan malu kalau pake batik atau nari tarian daerah atau bicara bahasa daerah. Alesannya, kuno. Ga gaul. Ketinggalan jaman. Ya kan?


Jadi, buat peringatan sumpah pemuda taun ini, kenapa kita para pemuda ga lebih fokus untuk melestarikan budaya Indonesia. Kan kalo bukan kita yang jaga, siapa lagi? Juga, dengan kita melestarikan budaya Indonesia, niscaya budaya Indonesia ga akan "dicuri" lagi sama pihak asing. Walaupun jika gw liat ke postingan sebelumnya, rasanya hampir ga mungkin ada kebudayaan yang asli. Yang artinya ada kemungkinan budaya kita mirip/sama dengan kebudayaan negara lain.


Sekian...

Hidup Indonesia!


*keterangan: kalo ada yang ga setuju atau ga sepaham, ayo kita diskusi supaya kita bisa saling mengerti.

Read more...

Budaya, Anak Muda dan Konflik dengan Malaysia

>> Thursday, September 24, 2009

Tentang budaya Herkovits berpendapat bahwa kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic (sumber: id.wikipedia.org). Nah, dengan begitu sebenernya ada ga sih kebudayaan yang "asli"? Menurut pandangan gw pribadi ga ada. Karena seperti pendapat Herkovits, budaya itu sesuatu yang turun menurun dari generasi ke generasi. Jadi dengan analogi jika ada suatu suku bangsa bermigrasi suatu tempat yang baru, berarti mereka membawa budaya mereka itu ke tempat yang baru. Dan itu akan diturunkan ke generasi berikutnya. Contoh, jika ada sekelompok orang Indonesia (misal dari suku Sunda) bermigrasi ke suatu tempat baru, maka mereka akan membawa kebudayaan dan adat Sunda di daerah baru tersebut. Dan jika kita lihat kebudayaan-kebudayaan dan adat di Indonesia, sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu-Buddha dan Islam yang dibawa oleh para pedagang asing yang menetap di Indonesia pada masa lampau. Jadi menurut gw, sangat mungkin budaya dari dua negara mempunyai kemiripin atau mungkin sama. Karena adanya asimilasi budaya dan migrasi tadi.



Nah, sekarang apa hubungannya dengan anak muda dan Malaysia? Well, kita tau akhir-akhir ini negara tetangga kita ini "mencuri" atau menklaim budaya Indonesia. Yang terbaru adalah soal tari pendet. Tapi apakah mereka yang salah sepenuhnya? Hmmm... kata satu maskot di salah satu program berita kriminal sih itu terjadi karena ada kesempatan. Yap, yap. Karena ada KESEMPATAN. Di sinilah hubungannya "pencurian" itu berhubungan dengan anak muda. Sekarang coba kita renungkan, anak muda jaman sekarang lebih milih latihan tari tradisional atau modern dance? Lebih suka ke bioskop atau nonton wayang? Lebih bangga pake kemeja merk luar negeri atau batik?



Bukan maksud menyalahkan anak muda (karena gw juga masih muda dan ga sempurna), tapi buat masukan untuk negeri ini, terutama para pemuda untuk lebih mencintai apa yang kita miliki. Bukan setelah "dicuri" baru kita marah-marah dan mencaci maki negara tersebut. Dan seperti pendapat gw tadi, sangat mungkin kebudayaan dari dua negara punya kemiripan atau mungkin sama. Dengan logika jika ada orang Indonesia telah lama menetap di Malaysia dengan membawa budaya Indonesia dan dilakukan di sana apakah itu "pencurian"? Yang kita butuhkan sekarang adalah pengertian antar negara. Ingat, api jangan dilawan dengan api. Dan untuk para pemuda, cintai budaya kita, budaya Indonesia.



*keterangan: ini hanya pendapat dan masukan gw sebagai pemuda. Kalau ada yang kurang sepaham kita diskusi aja. :)

Read more...

Happy Ied Mubarak!

>> Saturday, September 19, 2009

Di hari yang fitri ini,
marilah kita saling memaafkan
semoga kita semua mendapatkan hidayahNya

Taqoballahu mina wa minkum
Minal aidin wal fa idzin
Mohon maaf lahir batin

---- HAPPY IED MUBARAK 1430 H ----

Regards,

a2_1803

Read more...

Sinopsis: Perjalanan Seorang Bara

>> Monday, August 24, 2009

Wiscosin, musim panas 2009. Hari yang dinanti sekaligus dibenci oleh Bara. Hari itu adalah hari terakhir Bara bersama host familynya di Wisconsin. Bara teringat musim panas setahun lalu.

Bara duduk melamun di kafetaria YMCA. Dia bertanya tanya seperti apa host familinya nanti. Waktu orientasi selesai. Bara masih bertanya tanya tentang host familinya. Semua siswa pertukaran pelajar dikumpulkan dan dipersilahkan memperkenalkan diri mereka di hadapan orang asing yang akan menjadi bagian dari hidup mereka. Bara memperkenalkan dirinya tapi seolah tidak ada yang mengenalinya. Padahal dia yakin salah seorang dari orang asing itu adalah host familinya. Bara sempat berpikir bahwa dia tidak dijemput.

Setelah acara selesai, ada seorang nenek mendekati, Bara tahu nenek itulah yang akan mengasuhnya untuk setahun kedepan. Setelah bercengkrama sesaat, akhirnya mereka pulang.

Tiga bulan pertama bagi Bara adalah waktu terberat. Dengan keterbatasan bahasa, Bara kesulitan untuk berkomunikasi dengan kawan-kawan barunya. Bahkan dikelas pun Bara kesulitan untuk mengerti apa yang dijelaskan oleh gurunya. Di saat itulah Bara terkena homesick yag hebat. Bara tak tahu mengapa dia ingin segera tiba di Indonesia, tapi dia tidak tahu caranya.

Di saat itulah, Nathalie, nenek yang mengasuhnya di negeri asing tersebut terus berperan. Nathalie terus membei dukungan kepada Bara sebagai keluarga. Lambat laun hubungan Bara dengan Nathalie sudah seperti keluarga. Keduanya sangat akrab dan melakukan berbagai aktifitas bersama. Suatu kenangan yang tak terlupakan oleh keduanya.
Di hari terakhirnya Bara memeluk erat Natahalie. Keduanya tidak menangis, tapi ada perasaan sedih. Bara sedih harus meninggalkan “keluarganya”, namun dia bahagia akan pulang ke Indonesia. Di dalam pesawat, Bara melihat keluar jendela. Tak terasa air mata menetes di pipinya. Dan dia berjanji kurang dari 5 tahun lagi, dia akan kembali untuk mengunjungi keluarganya itu.

*Sinopsis oleh: Andi Anugerah untuk Workshop Who Wants to be a Filmmaker (16/8-09).
p.s.: buat Bara, sorry ya nama lu gw pake buat sinopsis ini.

Read more...

Note

Buat yang biasa berkunjung ke blog ini, mohon maaf karena blog ini sekarang jarang update... Dikarenakan banyak faktor *baca: banyak tugas, maklum anak (kelas 3 SMA) sekolah, ga ada internet di rumah (sedang di usahakan) dan kurang pendanaan (buat ke warnet).

Sekian,

a2_1803

Read more...

It's A Month Already

>> Thursday, July 30, 2009

It's a month already
A month since I left my "home" in Oshkosh
The home which gave me a lot of sweet memories
Great experiences
I miss them...

Sometime,
I'm asking to myself,
"Can I go back there? When?"

But,
However my life must still go on
And I believe someday, somehow,
I will be back to Oshkosh
And meet my family and all people there

Then, I want to say thank you so much
To Oshkosh for having me
And gave me those great experiences
See you guys in couple years from now!

Read more...

Re-Adaptation

Hampir sekitar 3 minggu gw balik ke sekolah. Yap yap, SMANSAKA. Perasaan gw? Bingung pastilah. Ga tau temen sekelas gw bakal gimana, nervous dengan pelajaran-pelajaran khususnya "the big 4 of science". Yup, apalagi kalo bukan kimia, matematika, fisika ma biologi.

Setelah hampir 3 minggu berjalan, gw "kembali" ke kelas IPA 2. Hohoho... Akhirnya keinginan buat bertahan di IPA 2 kesampean juga *thanks to Ujang and Niken who left for their abroad year*. Dan yang gw suka dari kelas ini, auranya enak. Terus keliatannya kompak. Ya, walopun gw masih belum terlalu akrab ma mereka semua, tapi gw mulai enjoy ada di kelas IPA 2 yang (seharusnya) notabenenya adik kelas gw (sesama IPA 2). Tapi, gw rada risih ma temen-temen sekelas yang (masih) manggil gw dengan sebutan "akang" *di skul gw kalo nyebut ke kakak kelas pake sebutan akang ato teteh*. Bukan apa-apa sih, tapi gw lebih seneng dipanggil nama aja. Maksudnya biar ga berasa terlalu tua.. ==a

Then, my wish for this class, wish we'll be a very best friend or maybe become a kind of "family" from now and later. :D

Read more...

Finally Home

>> Friday, July 10, 2009

Hufh, ternyata bener kata orang. Readjust ke budaya sendiri itu ternyata lebih sulit. At least that happen to me. After shock when my sister tell me that my dad lost my cellphone, my number expired, my computer has a problem (if not broke - I'm not even touch it yet) and my room was changing. Masalahnya, gw baru tau itu Selasa kemaren. Jadi wajarlah gw shock berat, apalagi buat masalah kamar, ga ada yang ngasi tau gw n minta persetujuan buat ngerobah kamar gw. T-T

Nyampe rumah, masih concern dengan ekspektasi yang terlalu tinggi dari orang-orang sekitar. Dibilang "Suhm yang baru pulang dari Amerika..". So what if I'm back from US? I do change definitely. But I don't like if people say like that. Anyhow, I'm still myself!

Read more...

Wise Quote

"People rarely succeed unless they have fun in what they are doing." - Andrew Carnigie

  © Blogger templates Inspiration by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP