Monday, November 14, 2011

Ketika Nasionalisme Dipertanyakan

Hmm.. gw cuma keinget cerita dosen PSSR gw. Katanya, senior gw pernah bikin semacam film/serial animasi tentang Cepot dan kawan-kawan. Waktu itu dia nawarin karyanya itu ke beberapa stasiun televisi, tapi ga ada respon. Terus dia juga nawarin ke Departemen Pariwisata (kalo ga salah), tapi tetep ga ada respon positif untuk karyanya itu. Nah, setelah itu ada pihak dari Malaysia yang mau beli karyanya itu. Emang sih waktu itu dosen gw ga nyeritain apa senior gw itu akhirnya ngejual karyanya ke Malaysia atau ngga.

Sekarang, fenomena yang terjadi adalah warga Indonesia, terutama anak-anak terlihat (sangat) mengapresiasi serial animasi dari luar negeri, dan salah satunya dari negeri tetangga. Meskipun ada kabar bahwa yang membuat animasi tersebut adalah orang Indonesia dan pengisi soundtracknya band asal Indonesia, tapi rasanya miris melihat orang Indonesia lebih "menghargai" karya dari luar.

Merujuk ke dua kejadian di atas, gw pun bertanya, kenapa sepertinya orang Indonesia sulit menghargai karya anak bangsa? Apa karena itu karya anak bangsa sehingga dianggap murahan?

Sunday, November 13, 2011

Bittersweet in DKV

Well, it's been awhile since last time I make a post in this blog. 

Ya, gw udah (mungkin tepatnya baru) 2 tahun kuliah di DKV salah satu universitas swasta di Bandung. Tahun pertama, gw ngerasa santai dan ya mungkin "nyaman" belajar di sini. Tapi saat semester 2, ada sesuatu yang bikin gw mikir. Ada beberapa dosen yang jarang ngajar, kadang ada mahasiswa jarang masuk/ngumpulin tugas tiba-tiba grade nya bagus, fasilitas lab pun cuma "seadanya" di kampus.

Friday, February 4, 2011

Kemanakah Jajanan Ini Sekarang?

Jadi, hari ini di perjalanan pulang dari Cimahi menuju ke Bandung, gw mampir dulu ke CiWalk (setelah Jumatan gw mampirnya). Niatnya sih ya udah jelas makan terus sambil keliling-keliling, kali aja ada barang yang cocok, baik dari harga dan jenisnya, soalnya gw lagi pengen beli dompet.

Nah, pas gw nyari makan, gw liat ini di depan sebuah restoran di sana..




Jadi aja gw teringat masa kecil gw.. Terus gw beli satu dengan harga 5ribu, aga kerasa mahal, soalnya dulu harganya segitu deh *dulunya entah kapan.. :p*.

Bahasan gw di sini, gw rada miris dengan kondisi-kondisi jajanan seperti gulali ini.. Sekarang udah susah banget buat ditemuin. Padahal dulu ini salah satu jajanan anak-anak favorit. Apakah karena banyaknya makanan/jajanan "modern", sehingga sekarang gulali dan jajanan tradisional lainnya terpinggirkan? Menurut gw, jajanan ini perlu dilestarikan kawan. Soalnya, untuk gw (yang sekarang udah mahasiswa) dan mungkin temen-temen yang lain, jajanan ini bisa bikin kita inget masa kecil kita, sehingga kita bisa sedikit melupakan penat rutinitas karena rasa excited terhadap jajanan tersebut. Dan gw sangat meng-apresiasi manajemen Goelali Bistro yang udah nyediain tukang gulali yang kini udah langka. Terus masih di jajaran Goelali Bistro ada juga restoran yang ngejual kue ape dan es goyang.. Tapi gw ga sempet ngambil fotonya..

Sunday, December 5, 2010

Belajar Budaya di Luar Negeri (?)

Well, tulisan gw bikin setelah gw liat TVOne. Di salah satu acaranya, ada yang bahas tentang budaya-budaya Indonesia yang ternyata disukai di Jepang (di liputannya adalah dangdut). Jadi keinget kata-kata dosen gw di kelas PSSR. Beliau pernah bilang, "Jangan terlalu bangga kalau orang asing belajar budaya kita. Karena, mungkin ga suatu saat nanti kita pengen belajar budaya itu ke mereka?". Emang sih, sekarang belum kerasa, tapi menurut gw ini harus mulai dipikirkan.

Merujuk ke liputan itu, orang-orang Jepang (memang masih belum sangat banyak) cukup menyukai musik yang bisa dikatakan "khas" Indonesia, yaitu dangdut. Ya, memang diantara penikmat J-Dangdut itu ada warga Indonesia yang bermukim di Jepang juga. Namun, bukan tidak mungkin lebih banyak masyarakat Jepang bakal menggandrungi dangdut dan lebih ngembangin dangdut itu sendiri.

Sekarang, bagaimana di Indonesia? Gw secara pribadi ngeliat banyak budaya Indonesia yang terpinggirkan, kalah dengan "budaya" asing. Well yes, gw sendiri emang bukan (belum sepenuhnya) pecinta budaya lokal. Tapi gw pengen memupuk itu. Kita liat sekarang, fakta dari judul yang gw tulis itu udah ada. Apa itu? Kalo seseorang pengen serius mendalami Sastra Sunda, mereka masih bisa mendapat gelar sarjana di Indonesia. Tapi kalo mau ngambil master di bidang Sastra Sunda? Belajarlah ke Belanda. Ironis.

Sekarang, cukup banyak juga mahasiswa asing yang datang ke Indonesia dan belajar seni-seni tradisional. Membanggakan? Ya. Karena artinya budaya kita diakui dan disukai. Namun, seperti kata dosen saya, mungkin suatu saat kita harus belajar ke mereka untuk mengenal budaya kita. Dan menurut gw pribadi, kemungkinan itu sangat ada. Karena sekarang budaya-budaya tradisional tengah "terjajah" dengan "budaya" asing yang terlihat sangat amat "keren" di mata anak muda. Jadi, inilah waktunya buat kita, pemuda, untuk (minimal) lebih mengapresiasi budaya yang kita punya sebelum kita harus jauh-jauh bSelajar ke negeri asing hanya untuk belajar budaya yang sebenarnya budaya kita sendiri. :)

Friday, November 26, 2010

Efek dari Ngegambar Pohon

Well, yes. I thought this is an effect from drawing a tree this recent week. So I write this post. :p

Renungan selepas ngegambar pohon, gw baru sadar kalo pohon itu adalah makhluk yang luar biasa. Itu menurut pandangan gw secara pribadi. Liat aja, pohon selama hidup bahkan sampai udah mati pun bisa ngasih manfaat untuk manusia. Selama hidup, pohon ngeproduksi buah buat bisa dimanfaatkan oleh manusia. Untuk pohon yang ga bisa ngeproduksi buah pun, seengganya pohon bisa ngehasilin oksigen buat manusia. Belum lagi pohon bisa jadi filter polusi ditambah dengan pohon itu bisa jadi penahan banjir, longsor dan abrasi. Di saat udah mati, (beberapa) pohon bisa dimanfaatin jadi barang furnitur, bahan bangunan, benda seni dan perabotan rumah tangga Jadi, apalagi yang bisa dibantah dari kontribusi pohon untuk kelangsungan hidup manusia?

Karenanya, kenapa kita sebagai manusia ga meniru pohon. Terdengar klise, cuma untuk bermanfaat untuk orang lain. Ga nyampe di situ, kita sebagai manusia menurut pandangan gw akan lebih baik kalau bisa bermanfaat untuk orang lain bahkan saat kita udah berpulang. So guys, why don't we try to be better and try to make that can make a good impact for (at least) people around us.

Dan terakhir, mari lestarikan pohon-pohon kita. Tanpa mereka, kita itu tidak hidup kawan!

Friday, October 29, 2010

Kerjaan Anak DKV di UKM Kewirus

Hmmm... mungkin karena ketua UKM Kewiraushaan itu anak DKV, jadi beliau mengkaryakan anak-anak DKV buat ngedekor ruang sekretariat. Dan jadilah seperti ini

Karena kerjaan ini lah gw 2 hari balik dari kampus sekitar jam 7-an terus. Emang sih ga bagus-bagus amat.. Tapi lumayan lah.. :)

Oia, comments and feedbacks are really welcomed.. :D

*Notes: design and concept by Wellie Soe
             worked by Wellie Soe and anugerahandi
             special thanks to Rexy van der Blues
             helped by KEWIRUS' seniors

Sunday, October 3, 2010

Jejaring Sosial

Sebelumnya gw perlu tegasin bahwa ini adalah opini gw pribadi dengan melihat realita di jejaring sosial belakangan ini terutama di jejaring sosial berlogo burung. Intinya yang lagi dibahas itu tentang sekolah. Nah dari situ gw rada tersentil buat nulis entry ini.

Jejaring sosial, sesuai dengan namanya adalah suatu wadah untuk mencari teman baik teman lama maupun teman baru, tanpa terhalang jarak dan waktu. Positif? Jelas. Tapi segala sesuatu pasti ada sisi negatifnya juga. Tanpa maksud buat ngejelekin, tapi gw sendiri rada gerah dengan update status di jejaring-jejaring sosial yang isinya mengeluh, ngejek orang atau kata-kata kasar. Dan kebanyakan (ini yang terpantau dari akun jejaring sosial gw) yang melakukan itu adalah kalangan yang bisa dikatakan terpelajar yaitu pelajar ataupun mahasiswa.

Mungkin memang karena kondisi mental mereka yang masih labil yang bikin mereka nulis status kaya gitu. Dan bahkan banyak juga kasus di mana pelajar diskors dan bahkan dikeluarkan karena update statusnya di jejaring sosial. Nah, sekarang masalahnya, apa semua hal yang kita rasain itu harus kita jadiin status di jejaring sosial supaya semua orang tau? Hmmm.. menurut gw pribadi ngga. Gw rasa lebih bijak kalo nulis tentang apa yang rasain itu yang baik, bukan berarti kalo lagi sedih ga perlu nunjukin itu, sekali-kali ya wajar lah. Tapi kalo setiap update statusnya nunjukin kesedihan terus kan ga enak juga orang bacanya. Atau update status tentang info tugas sekolah/kuliah, info acara, quote motivasi atau lainnya, itu bakalan lebih bermanfaat baik buat diri sendiri juga orang banyak.

Memang dengan adanya jejaring sosial memungkinkan kita buat lebih bebas buat ngomong. Tapi ya ada batas-batasnya juga dong, jangan nyampe ngeganggu orang lain. Kalo emang kesel atau ga suka sama orang kayanya lebih baik ngomong langsung daripada update status beberapa kali buat ngejek orang itu. Mending kalo orang itu ada di friendlist kita, kalo ngga ya ngga bakal guna.

So, gunakan jejaring sosial dengan bijak. Banyak banget manfaat jejaring sosial selama itu dipake buat bersosialisasi. :)

Thursday, September 23, 2010

DKV

Share sedikit pengalaman aja selama hampir 2 bulan jadi mahasiswa di FDKV.

Apa itu DKV?
DKV adalah kependekan dari Desain Komunikasi Visual. Yang artinya fakultas/jurusan ini berhubungan dengan desain yang mampu menyampaikan pesan melalui media visual baik cetak maupun elektronik.

Apa yang dipelajari di DKV?
Di DKV akan diajarkan mengenai cara berpikir kreatif, rupa dasar, gambar, komputer (yang mendukung pengembangan bidangnya), tipografi dan beberapa mata kuliah umum bergantung pada universitasnya.

Bagaimana prospek kerja dari DKV?
Mungkin ini adalah pertanyaan yang paling sering ditanyakan. Prospek kerja dari lulusan DKV sangatlah luas. Bisa bekerja di bank atau perusahaan sebagai ahli desain (biasanya berhubungan dengan marketing/promosi), di biro periklanan/advertising, production house, stasiun televisi, majalah, percetakan, distro/clothing dan masih banyak lagi.

Apa yang harus disiapkan untuk kuliah di DKV?
Untuk diketahui, yang perlu disiapkan tentu saja tekad. Jika merasa belum jago gambar, itu masih bisa dilatih. Yang penting tekad harus kuat untuk kuliah di DKV. Sebagai informasi tambahan, buku-buku di DKV relatif lebih murah daripada buku-buku untuk jurusan lain, namun dana akan lebih digunakan untuk tugas sehari-hari. Karena untuk menyelesaikan tugas sangat mungkin kita perlu membeli peralatan sehingga perlu dana lebih.

Mungkin sekian sharing pengalaman tentang DKV. Semoga berguna. :)

Saturday, August 28, 2010

PPU, Welcome to the New Chapter of Life

Akhirnya masuk juga dunia universitas.. Hahaha.. Dan inilah cerita gw selama 3 hari ke belakang di mana gw dapet PPU atau Program Pengenalan Universitas.


Day #1 (Wed, Aug 25)

Hari ini sebenernya ga ada yang terlalu penting. Dateng dikasih buku panduan PPU, name tag PPU. Masuk GSG, terus gladiresik buat penerimaan mahasiswa baru. Diajarin nyanyi Hymne Widyatama dan selesai. Pas gw buka buku panduan PPU, ada 2 point yang bikin kaget: 1. maba putra rambut harus dirapikan (hanya 2 cm); 2. sepatu hitam, kaos kaki putih. Wew, waktu itu gw langsung sms temen-temen gw yang di Bandung buat minjem sepatu item. Sepatu beres, terus gw "potong" rambut. Waktu rambut gw di"potong" gw cuma bisa pasrah aja di tukang potong rambut.. T.T


Day #2 (Thu, Aug 26)

Dateng di kampus jam setengah 7 pagi. Abis absen, gladi lagi buat penerimaan mahasiswa baru oleh senat. Sekitar jam 9, upacara penerimaan mahasiswa baru Widyatama berlangsung khidmat dan lancar. Setelah resmi diterima sebagai mahasiswa baru, waktunya ceramah-ceramah. Ceramah pertama dari rektor. Dan yang gw catet dari ceramah rektor:
- Manfaatkan waktu muda!
- Lulusan Widyatama diproyeksikan BUKAN untuk jadi PNS! (gw suka yang ini.. XD)
- Lulus kuliah = pengusaha (yang ini juga gw suka.. XD)
- Hadapilah tantangan dan jangan takut dengan resiko.
Abis itu dilanjut dengan ceramah dari PMW, yang mana pada intinya PMW itu buat tempat mengadu kalo ada dosen yang ga bener atau fasilitas yang kurang. Terus ceramah dari BAA, keuangan, IT dan (apalagi ya..?) hmmm... gw boring sih pas cerama-ceramah yang belakang.. =.=


Day #3 (Fri, Aug 27)

Hari ini, acara difokusin di seminar soft skill. Pak Moejadi sebagai pembicara pertama ngejelasin bahwa soft skill itu adalah skill yang berhubungan dengan personal dan interpersonal. Dan jika di dunia kerja nanti, soft skill (kaya mudah bekerja sama, gampang komunikasi dll) itu lebih dibutuhin dibanding dengan hard skill (pengetahuan, IP tinggi dll). Terus dilanjut dengan pembicara kedua yaitu Pak Pipin. Seminar beliau intinya adalah pada pola pikir. Sehingga beliau berpesan:
- Waktu jangan disia-siakan karena ga bisa kembali.
- Kuliah jangan dijadiin beban karena bisa jadi masalah nantinya. Jadi mending dinikmati. :D
- Ubah pola pikir!
- What you think/said is what you want/wish.
Jadi intinya, hati-hati sama apa yang pikirin. Abis seminar soft skill, shalat Jumat terus lanjut ke fakultas. Dan, fakultas sangat luar biasa, karena satu fakultas (angkatan 2010) cuma 26 orang! Terbagi atas 18 grafis dan 8 multimedia. Naik ke lantai 5, ketemu Pak Reka yang jadi Sekretari Prodi baik untuk grafis maupun multimedia. Kata beliau, selama ada orang jualan, anak DKV itu masih dibutuhin. Terus beliau juga jelasin tentang apa yang bakal dipelajari secara garis besar. Dan beliau berpesan buat anak DKV:
- Kudu gaul! --> buat link cari duit.. :)
- Boleh cari duit, tapi jangan bablas! Kuliah beresin tepat waktu! (insya Allah, Pak!)
- Jangan ragu buat curhat sama dosen di luar kelas. Karena dosen DKV itu pada low profile. XD
- Yang ngerasa belum bisa/jago gambar perbanyak latihan + tanya ke dosen gambar.
- Belajar begadang juga perbanyak doping biar ga tepar!

Dan akhirnya gw jadi mahasiswa Widyatama. VIVAT ALMAMATER! VIVAT WIDYATAMA! :D

Tuesday, August 24, 2010

Flashback: Road to US (2 Years Ago)

Well, go abroad to US for me is like a dream comes true. Yup, gw ga pernah gw bakal terpilih buat program pertukaran pelajar. Ya karena kalo gw liat temen-temen seangkatan gw (yang juga siswa pertukaran pelajar), mereka itu punya prestasi luar biasa daripada gw.

Let's begin. Pergi ke Amerika Serikat, dulu itu cuma mimpi buat gw. Ya, serius itu mimpi. Waktu kecil dulu (gw lupa pas umur berapa) gw pernah mimpi (mimpi dalam tidur.. :D) lebih tepatnya ngigau, intinya gini:
- gw (dalam mimpi): terbang, terbang..
- kakak gw: terbang ke mana
- gw (dalam mimpi): ke Amerika
dan bertahun-tahun kemudian di mana bahkan gw udah rada lupa sama mimpi itu, mimpi itu jadi kenyataan, gw pergi ke Amerika.

Tapi ya ga setiba-tiba itu gw pergi ke sana. Gw pun harus ikut tes. Berawal dari coba-coba, gw bahkan ga punya target. Tes pertama, pengetahuan umum, English sama Bahasa Indonesia tertulis. Sedikit terbantu dengan beberapa pertanyaan seputar Perang Dunia 2 dan olahraga, gw bisa lolos dari seleksi pertama di rangking 12. Dan waktu itu gw pun ga percaya pas temen gw bilang bahwa gw lulus seleksi 1 *dasar aneh*.